Sebuah Ilusi Kecemburuan Sosial: Membuat Triggered ke Arah Mana?
Sumpah! Belakangan ini merupakan masa-masa gue ngerasa insecure dan sering ngerasa iri dengan pencapaian ataupun obrolan orang-orang di dekat gue. Pertama, sewaktu buka sosmed, gue melihat orang-orang pada nge-post tentang pencapaian mereka, mulai dari internship, conference, menang lomba, dan masih banyak lagi hal lainnya. Barusan banget, gue buka LinkedIn, eh gw melihat orang-orang yang kuliah seangkatan dengan gue post mengenai posisi mereka sebagai lecturer assistant. Gue sebenarnya gak ngerasa sedikitpun kalau pencapaian mereka atas posisi tersebut gak pantas, hanya gue ketika melihatnya mulai membandingkan dengan kondisi gue saat ini. Gue yang minggu ini, sebenarnya, dapat pengumuman kalau keterima buat internship di Otoritas Jasa Keuangan (OJK), tetapi alahkah teledornya tidak memperhatikan periode yang gue pilih sehingga dengan sangat terpaksa harus mengundurkan diri.
Selain itu, gue juga merasa banyak banget kegagalan dan kecerobohan yang dilakukan selama kuliah. Padahal, gue sendiri kuliah di kampus yang diidamkan dan didambakan oleh jutaan pelajar di Indonesia, dan salah satu bagian dari kampus tersebut. Namun, berbagai kesempatan yang datang karenanya, tidak bisa gue manfaatkan dengan baik, malah seringkali gue merasa kalau kuliah di kampus ini sama sekali gak ada dampaknya buat gue, baik dari kemampuan secara keseluruhan, maupun dari segi relasi atau pertemanan. Gue beberapa kali mencoba mengoptimalkan berbagai kesempatan tersebut, misalnya dengan mengikuti organisasi ataupun kepanitiaan yang ada di kampus, tetapi semuanya nihil, bukan membuat gue ter-upgrade, malah ter-downgrade. Malahan seringkali juga gue merasa menjadi beban, bahkan membuat organisasi atau kepanitiaan yang gue ikuti menjadi berantakan dengan proker-proker yang terbengkalai.
Dalam hal sosial, gue sering merasa bahwa ada aura negatif yang seringkali terpancar dari diri gue sehingga kebanyakan orang yang bersama dengan gue merasa tidak cocok atau tidak nyambung sama sekali ketika melakukan interaksi dengan gue. Dulu, sewaktu SMA, gue berpikir bahwa hal ini biasa, karena gue introvert atau berbagai prediksi gangguan kecemasan sosial lainnya. Namun, semakin ke sini, di mana gue sangat penyendiri, bahkan selama kuliah ini, gue bisa bilang kalau jumlah teman gue bisa dihitung jari, padahal jumlah mahasiswa untuk satu angkatan sendiri ada hampir seribu orang. Dari sini, gue berpikir lebih jauh dan lebih mendalam lagi, kalau semua ini karena prasangka-prasangka buruk yang sering muncul dalam benak gue, baik terhadap gue ataupun terhadap orang lain. Sebenarnya, gue sempat baca, nonton, ataupun dengarkan beberapa sumber yang membuktikan bahwa pikiran kita akan terproyeksi secara tidak sadar dalam bentuk aksi-aksi yang kita lakukan.
Gue semakin merasa juga kalau perkuliahan yang gue jalani ini apakah akan benar-benar bergunan bagi kehidupan gue ke depannya atau tidak, di mana kondisi gue saat ini sangat tidak optimal dan tidak terlalu bersungguh-sungguh dalam menjalaninya. Namun, gue juga terkadang berpikir bahwa, gue sendiri, sewaktu memilih untuk masuk kampus sekarang, pada saat sebenarnya lagi berkuliah juga di kampus lain, bukanlah karena hal-hal yang selama ini gue irikan terhadap orang-orang. Gue pernah dengar salah satu podcast, yang narasumbernya bilang kalau terkadang ketika hal-hal yang kita capai berbeda dari orang-orang di sekitar adalah karena mungkin passion kita di sana juga gak setinggi itu sehingga willing buat memperjuangkannya juga gak sebesar orang-orang tersebut, dan ini make sense menurut gue. Namun, gue juga takut banget justru terpedaya oleh kondisi tersebut, di mana berpikir kalau ketika kita tidak bisa benar-benar perform adalah hanya karena passion belaka. Pada saat, gue sendiri tidak benar-benar tahu apa dan bagaimana passion yang gue harapkan untuk dijalani.
Zaman sekarang, sebenarnya, gue merasa kalau kita punya banyak sekali peluang untuk bisa menemukan passion, hanya saja terlalu banyak juga jadinya hal yang gue rasa passion. Dari beberapa sumber yang gue baca, passion sendiri tidak pernah benar-benar clear terdefinisikan. Hanya bentuk generalisasi saja dari kejadian-kejadian setiap orang yang sukses dan merasa menjalankan passion mereka. Alhasil, hal yang bisa gue tangkap dan benar-benar aplikasikan sekarang adalah mengenai bagaimana gue mulai lebih aware lagi, khususnya terhadap diri gue sendiri. Semester ini, gue berharap dan merencanakan banyak sekali hal, mulai dari mendapatkan IPK 4, bisa magang di tempat yang bagus, memperoleh pemasukan tambahan supaya gak terlalu bergantung kepada orang tua, dan memperbaiki serta meningkatkan relasi gue selama di kampus, dan juga di semester depannya berharap dan berupaya supaya bisa juga menjadi lecturer assistant. Walaupun mungkin terasa muluk-muluk, tetapi apa bedanya dengan sewaktu gue mempersiapkan untuk dapat masuk di kampus sekarang, yang mana gue sendri berasal dari sekolah yang kalau dibayangkan dulu, terasa sangat sulit untuk bisa mewujudkan kampus gue sekarang.
Gue juga sebenarnya, sekarang ini, melakukan berbagai hal yang sempat gue lakukan di masa-masa gue nyiapin masuk kampus dulu. Salah satunya adalah gue melakukan afirmasi diri setiap sebelum tidur dan saat ini udah berjalan hampir sebulan. Gue merasa sangat tertinggal, tetapi gue optimis akan tetap menjadi manusia yang hebat dan berguna, walaupun mungkin jalan atau kesempatan yang gue peroleh untuk menjadi hebat berbeda dari orang lain. Gue berharap, berharap, dan terus berharap sampai semua tujuan yang rencanakan dapat tersebut disertai berusaha, berusaha, dan berusaha mewujudkannya. Selangkah demi selangkah, detik demi detik, cara demi cara, dan pencapaian demi pencapaian yang selalu gue harapkan dan rencanakan agar masa depan gue bisa sebaik dan sesejahtera mungkin. Semua keluhan di atas hanya berupa kejujuran gue saja terhadap kondisi gue saat ini, yang mana gak bisa ceritakan kepada siapapun sehingga yang paling tepat adalah menuliskannya di blog ini, karena gue sendiri tahu bahwa pengunjung blog ini sebenarnya gue-gue juga jadinya gue merasa bisa sangat jujur. Semua hal di atas, khususnya keirian kepada siapapun gue telah hapuskan dari diri gue sepenuhnya dan gue justru berterima kasih terhadap semuanya, karena dengan adanya itu gue menjadi triggered untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi, beruntung lagi, dan juga lebih banyak mencapai berbagai hal lagi. TERIMA KASIH DIRI GUE ATAS KESADARANNYA DAN JUGA USAHANYA!
Komentar
Posting Komentar