Boring

Dari pagi hari, gw cuma berkutat di kesenangan fiktif dunia maya saja. Awal bangun, gw langsung mengecek hp tanpa ada tujuan yang jelas selain dari hanya memperoleh sesuap dopamin. Kebetulannya, gw tidak kesiangan untuk menunaikan shalat shubuh soalnya gw sendiri baru tidur pukul 5-an. Sebelum tidur, gw memutuskan ibadah dulu karena ada dorongan hati untuk menunaikannya dan gw menunaikannya di masjid.

Gw baru bagun pukul 10-an dikarenakan cahaya matahari yang terpancar dari jendela, kebetulan gordennya ada yang buka. Gw merupakan salah satu manusia yang aneh bagi kebanyakan orang di lingkungan gw. Gw malas ke mana-mana, tetapi gw menganggapnya nyaman di tempat tidur saja. Beberapa kali, gw diajak pergi dan hampir selalu gw bilang lagi gak mood. Padahal, gw sendiri tidak benar-benar bisa mendefinisikan makna mood yang gw anut itu. Mood bagi gw mungkin hanya lagi mau atau gak mau saja, padahal mood secara terminologi tidak sedangkal itu. Mood itu meliputi berbagai akumulasi dari kesediaan kita dalam menjalani suatu hal, seenggaknya ini yang gw pahami dan yakini sejauh ini.

Alangkah banyaknya hal normatif dan formatif yang mesti gw jalani hari ini. Tetap berinteraksi dengan orang-orang, walaupun gw tidak benar-benar meyukainya merupakan salah satu hal. Determinasi terus-terusan diuji dan terus-terusan memerlukan eskalasi yang lebih optimal dari masa ke masa. Ilusi kerbermanfaatan dan bagaimana menjadi manusia produktif merupakan masalah yan tidak ada akhirnya, apakah ini berarti zero-sum game? Gw hanya perlu bertahan saja sekuat dan sejauh yang gw bisa? Lalu, apa makna sesungguhnya kehidupan itu apabila selalu ada konsekuensi seperti demikian?

Habis shalat dzuhur, gw membeli makan. Gw sudah kepikiran sedari malamnya untuk membeli ayam Kedoya, tepatnya ayam kremes. Gw mengendarai motor untuk menjangkau tempatnya, inventory milik asrama gw. Sewaktu di jalan, gw melewati tempat penjual ayam katsu yang entah mengapa terasa lebih menggiurkan sehingga gw pun membelinya. Keputusan yang gw lakukan barusan memunculkan trade-off dengan opportunity cost-nya ayam Kedoya, selipan istilah ekonomi sedikit. Gw langsung memanggil pemiliknya, " Bang, nasi ayam katsu satu porsi ya." Pemiliknya menjawab sigap, "Oke, Bang." Gw pun menunggu beberapa dan nasi ayam katsu yang gw pesan sudah siap dikonsumsi. 

Sehabis makan, gw memutuskan rebahan lagi dan berselancar di Twitter, tempat di mana hidup terasa bisa secepat itu dan juga se-random itu. Ada banyak hal-hal yang bisa gw baca, lihat, dan tonton, yang jelas ada hal-hal detail yang sangat privasi gak bisa gw jelaskan. Scrolling merupakan hal yang memuaskan sekaligus memuakkan. Algoritmanya membuat kita bisa mengonsumsi tweet yang sama berkali-kali, tetapi tetap mengambil attention gw untuk beberapa saat. 

Waktu menjelang sore, gw membuka laptop dan mencoba meng-organize kembali Notion gw. Gw secara random memasukan berbagai hal di Notion dan mencoba meng-organize-nya melalui template-template yang ada. Gw juga memutuskan membuka sosmed dan mencari info magang di Instagram dan LinkedIn. Sehabis itu, gw selesaikanlah semuanya, dengan baterai laptop terpantau seakarat.

Malamnya gw membeli nasi goreng dekat asrama dan memakannya sebelum tiba waktu isya. Pada pukul 8, gw menjalani rapat organisasi yang membahas progress dan juga strategi-strategi untuk ke depannya dalam menjalani proker. Rapat berjalan agak chaos karena gw sudah agak lama juga tidak berinteraksi dengan mereka sehingga hasilnya pun tidak cukup memuaskan bagi gw dibandingkan rapat sebelumnya. Di akhir rapat, gw memutuskan untuk mengobrol terlebih dahulu dengan partner bph untuk membahasa lebih lanjutnya hal-hal yang sudah dibahas. Di organisasi ini, gw belum menyelesaikan satu proker pun padahal sudah berjalan lebih dari dua bulan. Entah apa yang akan terjadi. Semoga bisa menjalani proker yang ada di kedepannya!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Terbantai Statlan

Repeated Games in Repeated Moment: Balas di Semester Ini Apa Kabarnya?

Rutinitas