Kebutuhan Dulu
Siang hari tadi, gue ngelakuin kembali ngelakuin hal-hal yang selama ini pengen gue hindari. Gue lupa akan janji-janji yang telah gue buat sama diri gue selama ini. Gue kalang kabut banget didera ketidaksadaran dalam melakukan hal-hal yang sebenarnya merupakan pantangan dan tidak sepantasnya gue lakukan. Gue berpikir bahwa hidup ini perlu terus-menerus berubah secara konsinten, tapi apa yang gue lakukan tadi siang berkebalikan banget dengan yang gue pikirkan selama ini. Ada apa dengan gue siang tadi? Mengapa gue melakukannya? Oh Tuhan ampunilah hambamu ini. Ungkapan tersebut gue repetisikan selama beberapa kali, lagi dan lagi.
Gue tadi siang ngebuang-buang waktu yang gue miliki untuk kesekian kalinya. Gue sering banget kejebak sama hal-hal yang menjanjikan kepuasan sehingga lebih memedulikan hal yang menjadi keinginan gue dibandingkan dengan hal yang sebenarnya gue butuhkan. Gue butuh tobat berkali-kali. Gue butuh penghilang segala distraksi yang hadir. Gue juga butuh pemicu konsentrasi instan dalam rangka mengerjakan tugas-tugas yang gue miliki. Oleh karena itu, tadi siang gue berjanji untuk kesekian kalinya terhadap diri gue dan berharap tidak lagi mengulanginya dengan alasan urgensi apa pun.
Ngebuang-buang waktu itu sendiri merupakan anggapan gue saja terhadap kejadian yang gue nilai secara bias waktu siang tadi. Gak ada kata mutlak yang bisa menggambar proses membuang-buang waktu secara berkelanjutan. Mau bagaimanapun suatu konsep abstrak pasti akan sangat terpengaruh oleh subjek penerima pesan mengenai konsep yang ada, tetapi dengan memahami hal tersebut justru kita bisa lebih waspada dan jeli dalam menanggapi hal-hal yang terjadi dan menilainya secara akurat berdasarkan benar-benar apa yang kita butuhkan waktu itu bukan hanya apa yang kita inginkan dan hanya mengharapkan kepuasan yang bersifat sesaat.
Komentar
Posting Komentar