Ketidakmanusiawian
Tadi, sekitar 6 jam yang lalu, gue dengan ceroboh ngelakuin hal-hal yang tidak terlalu manusiawi. Objeknya adalah diri gue sendiri. Jadinya bisa dibilang kalau gue ngelakuin ketidakmanusiawian tersebut terhadap diri gue sendiri. Jujur aja, gue gak akan mungkin bisa nyeritain kejadian detailnya, yang jelas hal ini menunjukkan sisi ketidakmanusiawian gue terhadap diri gue sediri. Akan tetapi, gue punya projek buat nulis tiap hari di blog ini dan seperti yang mungkin kebanyakan dari lo udah tahu bahwa ide sebuah tulisan yang baik itu mesti ngena ke pembacanya. Terus, gue pernah baca juga di bukunya Bang Raditya Dika bahwasannya kena atau tidaknya ke pembaca bisa kita tes terhadap diri kita sendiri dulu. Maksudnya, dia dalam bukunya bilang kurang lebih kalau ide cerita yang baik atau tulisan apa pun bisa muncul dari sebuah kegelisahan, makannya saat ini gue nulis sebuah ketidakmanusiawian gue terhadap diri gue sendiri. Alasannya tidak lain karena hal tersebut merupakan sebuah kegelisahan yang sedang gue alami saat ini.
Di sisi lain, gue sebenarnya bukan termasuk orang yang tiba-tiba bisa jadi seorang pawang ide gitu. Jadinya, hal yang gue bisa lakukan adalah terus-menerus menelisik hal-hal yang bisa menjadi kegelisahan ataupun kesedihan dari yang gue alami setiap harinya. Kembali ke mengenai kemanusiaan, gue sebenarnya gak terlalu mengerti mengenai konsep kemanusiaan yang pakem itu seperti apa. So, kalau misalnya gue ditulisan ini agak melantur dan tidak ada akurat-akuratnya mohon dimaklumi. Namun, gue sebenarnya tipis-tipis pernah baca di buku maupun internet mengenai kemanusiaan dalam pemahaman umum seperti apa. Oleh karena itu, gue juga kali ini beraninya paling bahas tipis-tipis aja, takut kalau kedaleman bahasnya. Hal ini sama seperti berenang menurut gue. Kalau bisa renangnya cuma dikit atau masih termasuk amatir, gak disaranin banget buat berenang di tempat yang terlalu dalam, soalnya nanti bisa banget tenggelam.
Kemanusiaan sendiri sebenarnya merupakan sebuah konsep yang dimunculkan oleh proses nalar dari otak manusia. Maksudnya, basis dari kemanusiaan itu adalah ide. Konsekuensinya kalau berbasis pada ide, konsep tersebut bisa saja relatif di setiap tempat. Oleh karena itu, kita membutuhkan nalar yang toleran terhadap kemungkinan-kemungkinan yang terjadi supaya dapat memahami konsep kemanusiaan secara menyeluruh. Terus, karena di blog ini gue bakalan ceritain pengalaman-pengalaman yang gue alami aja, makanya untuk bahasan mengenai kemanusiaannya cukup sampai di situ aja.
Sore tadi, gue ngalamin kekurangnafsuan dalam makan. Hal tersebut mengharuskan untuk cepat-cepat dalam bertindak, terutama untuk mencari makanan yang seenggaknya bakalan gue makan dalam kondisi apa pun. Kepikiranlah waktu itu bahwa gue akan membeli mie ayam yang merupakan makanan favorit gue di musim apa pun. Lalu, gue pun pergi beranjak menuju lokasi pedagang mie ayam di daerah gue. Sampai di tempatnya, gue merasakan hal yang aneh dengan tubuh gue. Gue ngerasa lemes banget yang mungkin akibat belum makannya gue. Gue menunggu sekitar beberapa menit sampai mie ayam gue jadi dan dibawa pulang, soalnya gue biasa makan pakai nasi sehingga prefer makannya di rumah. Mie ayamnya jadi dan transaksi pun terjadi antara gue dengan pegawai di tempat tersebut. Gue pun pulang ke rumah dan menyantapnya dengan lahap. Akan tetapi, gue sejujurnya gak ngelakuin ketidakmanusiawiannya di sore hari sehingga lebih baik lanjut aja di pragraf berikutnya untuk info lebih lanjut.
Barulah ini merupakan paragraf yang bakalan menjelaskan kejadian ketidakmanusiawian yang gue alami. Malam harinya, sebenarnya malam ini, gue melakukan sebuah ketidakmanusiawian yang sempat gue ceritain di paragraf pertama. Ketidakmanusiawian yang sering gue lakukan, biasanya dilakukan sendiri, dan kalau bergerombol bisa sangat-sangat memalukan. Gue sebenarnya gak terlalu niat buat melakukan hal tersebut, hanya saja godaan yang menerpa dan berusaha men-challenge gue terus menerus muncul, mulai dari coba-coba yang dilanjutkan dengan frekuensi pengulangan lebih sering, lebih sering, dan lebih sering lagi. Di kejadian tadi, gue harap menjadi kejadian terakhir gue dalam melakukan hal-hal ketidakmanusiawian sehingga gue bisa kembali ke jalan yang lurus, patuh dengan ajaran gue, dan meningkatkan secara berkala kemampuan yang gue miliki. Gue harap juga bahwa semua hal yang terjadi dapat dijadikan sebuah pelajaran yang teramat-sangat positif dalam proses menanggapinya supaya gue bisa secara terus-menerus tumbuh dan menjadi manusia yang lebih baik lagi dari waktu ke waktu, detik per detik, menit per menit, jam per jam, minggu per minggu, dan seterusnya sampai semua hal baik tersebut terkumpul menjadi sebuah bukit kebaikan yang suatu akan gue wariskan ke orang di sekitar gue.
Komentar
Posting Komentar